I'm Asep Rudi Casmana

WILUJEUNG SUMPING DINA SERATAN KANG ASEP


Sabtu, 23 April 2016

Kegagalan membawa berkah

Oleh Asep Rudi Casmana

Episode 4
Jalan terjal menuju beasiswa LPDP

Sebelumnya saya mohon maaf untuk para pembaca blog Kang Asep. Saya sudah bertekad untuk menyelesaikan tulisan ini hingga saya mendapatkan beasiswa. Oleh sebab itu saya kembali muncul untuk menulis dan memperbaharui blog ini. Beberapa minggu kebelakang saya tidak aktif pada dunia blogger karena sedang sibuk mempersiapkan acara persiapan keberangkatan (PK) Penerima beasiswa LPDP yang merupakan sebuah kewajiban. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah selesai, sehingga saya dapat kembali aktif menulis dan mengisi blog ini hingga ceritanya habis.

Pada episode kali ini, saya ingin bercerita mengenai kegagalan saya yang berulang-ulang tanpa henti-hentinya. Ya, memang begitulah kehidupan saya. Penuh dengan kegagalan, mungkin kebanyakan orang melihat saya dari segi keberhasilannya saja, namun mereka tidak tahu bagaimana saya berjuang keras untuk membangkitkan semangat supaya tetap berlanjut hingga akhirnya sukses.

Baiklah, sedikit flash back ke belakang. Semenjak saya lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi, saya sudah terbiasa dengan kegagalan. Saya ditolak oleh tujuh perguruan tinggi, diantaranya adalah ITB (gagal PMBP ITB 2010), UPI (Gagal PMDK, UM, SNMPTN), UNPAD (gagal SMUP), STIS Jakarta, IPB, IPDN (gagal di tes kesehatan yang katanya saya punya penyakit jantung, setelah check up ke rumah sakit yang lain, saya normal), dan akhirnya jurusan Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan UNJ mau menerima saya. Dari kegagalan ini, saya selalu berfikir positif dan selalu yakin bahwa Allah memiliki rencana yang terbaik untuk saya. Saya juga sangat yakin bahwa Allah akan mempersiapkan sesuatu yang lebih indah yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Itulah modal utama saya.

”rasa percaya diri yang kuat bahwa kita BISA, akan membawa kepada sebuah sikap yang mengarah kepada kesuksesan”

Kembali kepada kegagalan ujian bahasa Inggris. Jadi setelah saya melalui proses selama satu tahun di pare, kurang lebih saya sudah mengalami enam kali gagal dalam ujian bahasa yaitu tiga kali ujian TOEFL dan tiga kali ujian IELTS. Saya sangat terkejut ketika mengikuti ujian TOEFL pertama kali pada tahun 2014, pada waktu itu saya sudah mengunggah semua berkas pendaftaran beasiswa ke website LPDP (Ijazah, traskrip akademik, KTP, dan yang lainnya) hanya tinggal satu lagi sertifikat TOEFL yang belum. Namun apa boleh buat, Allah berkata lain. Nilai ujian bahasa inggris pertama saya hanya 357. How could it be? Nilai yang sangat rendah, untuk mendaftar beasiswa LPDP Afirmasi saja tidak cukup.

Meskipun demikian, saya tidak tinggal menyerah, saya terus berusaha untuk berjuang dan belajar. Pada ujian berikutnya, nilainya meningkat menjadi 463, kemudian meningkat lagi menjadi 473. Itu posisinya setelah saya belajar selama tujuh bulan di pare. Namun apa boleh buat, saya akhirnya sudah pusing sama TOEFL, saya putuskan untuk pindah ke IELTS.
Bismillah
Ini merupakan sebuah pengalaman bagi saya dan teman-teman yang sedang belajar bahasa inggris, khususnya bagi mereka yang mau mendaftar beasiswa luar negeri. Apakah saya perlu belajar TOEFL dulu baru IELTS? Ataukah langsung IELTS saja? Dulu saya berfikir untuk belajar TOEFL dulu hingga nilai saya menjadi 550, kemudian daftar beasiswa dan setelah itu baru ke IELTS. Namun ternyata untuk dapat nilai 500 saja bagi saya sebagai seorang pemula sangat susah, apalagi 550. Saya menyimpulkan bahwa bagi mereka yang ingin berniat untuk studi ke luar negeri, langsung belajar IELTS saja. Memang membutuhkan waktu yang lama, apalagi untuk pemula, namun hal itu akan mempermudah kita di akhir, apalagi kalau sudah mecapai target 6,5. Seperti yang saya rasakan, setelah 6,5 segalanya menjadi mudah.

Well, setelah saya hijrah ke IELTS, ternyata IELTS tidak semudah yang dibayangkan juga. Saya terus belajar bahasa inggris di pare tanpa henti-hentinya. Saya mencoba untuk ujian IELTS pertama pada tanggal 28 Maret di British Council Jakarta. Meskipun saya sudah merasa percaya diri, namun ternyata Allah belum juga menghendaki saya untuk berhasil. Nilainya hanya overall 5.0 dengan semua band-nya juga 5.0. Bagaimana tidak pusing, uang sudah hangus sebesar 250 USD atau sekitar Rp. 2.400.000 untuk test pertama. Namun apa boleh buat? Impian saya sudah sangat bulat untuk studi di luar negeri, saya tidak mau kalah hanya karena kegagalan pertama. Saya bukan tipe orang yang sekali gagal, lalu berhenti. Ibu saya selalu mengatakan bahwa wajar saja kalau gagal pada saat pertama, karena itu adalah masanya penetrasi dengan IELTS. Beruntung saya mendapatkan dukungan penuh dari ayah dan Ibu, sehingga mereka selalu menguatkan hati yang sedih ini untuk terus berjuang.

Setelah gagal, saya kembali ke pare dan dipertemukan dengan institusi English Studio dan dua orang kawan seperjalanan. Saya selalu percaya diri kalau sebenarnya saya bisa mencapai nilai 6.5. Dalam hati, saya selalu mengatakan bahwa “ah, 6.5 doang mah mudah. Ini mah masalah waktu saja, saya yakin kalau saya bisa”. Itulah yang selama ini yang ada dalam pikiran saya. Akhirnya, pada bulan September 2015 saya kembali mencoba ujian IELTS yang kedua bersama empat orang sahabat saya. Namun lagi-lagi belum berhasil. Nilai saya 6.0 dengan speaking 6.5, writing 6.5, reading 6.0 dan listening 5.5. Padahal kalau listening saya 6.0, saya dapat mencapai nilai 6.5. lagi-lagi saya tetap berfikir positif bahwa Allah belum mengizinkan.

Ketika saya gagal dalam bahasa, saya selalu berasumsi bahwa kehidupan di Inggris sangatlah keras, kalau IELTS saja yang sangat mudah tidak bisa, bagaimana kita mendengarkan dosen kuliah? Bagaimana cara kita presentasi di depan kelas? Bagaimana cara saya mengerjakan soal-soal dan membuat jurnal? Oleh sebab itu, supaya saya merasa percaya diri di Inggris, saya harus terus berjuang dan berjuang.

Akhirnya saya memutuskan untuk belajar sendiri di kosan selama empat bulan. Karena masalah saya pada listening, akhirnya saya tidak pernah melepaskan headset setiap harinya. Saya sumpelin telinga ini mulai setelah subuh, hingga jam 10 malam. Saya nonton film, dengerin podcast, radio BBC atau apapun itu yang bahasa inggris. Begitulah saya selama empat bulan terakhir. Finally, pada saat ujian bulan januari 2016, nilai saya meningkat menjadi 6.5. Ini merupakan standar minimal yang dibutuhkan oleh LPDP dan beberapa perguruan tinggi di dunia.

Setelah saya mendapatkan nilai 6.5, saya langsung diterima di beberapa perguruan tinggi top 100 di dunia, diantaranya The University of Glasgow, The University of Bristol, The University of York, University College London, The Australian National University, The University of Adelaide dan Monash University. Saya bisa membuktikan bahwa dulu saya ditolak oleh tujuh kampus terbaik di Indonesia, namun saat ini saya bisa diterima di 7 kampus terbaik di dunia. Meskipun demikian, saya memutuskan untuk masuk ke The University of York, United Kingdom. Karena hanya kampus ini yang menyediakan program MA in Global and International Citizenship Education. Saya kembali kepada keguruan, yaitu guru Pendidikan Kewarganegaraan.
Alhamdulillah saya sudah mendapatkan kunci itu
Dari perjalanan saya selama 14 bulan dan berkecimpung dengan kegagalan ini, ada banyak hal positif yang dapat diambil. Bagi saya, anugerah terindah dalam sebuah kehidupan ini adalah memiliki banyak kawan dan sahabat. Kalau saya tidak gagal, saya tidak tingal lama di pare, dan saya juga tidak akan mendapatkan sahabat-sahata terbaik. Saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan salah satu kawan sekelas alumni Universitas Sriwijaya Palembang. Sosoknya yang rendah hati selalu memberikan nasehat bagaimana cara mengahadapi hidup dan mengatur emosi. Satu hal yang sampai saat ini saya tidak pernah lupa adalah niat. Setelah saya memperbaiki niat atas nasehat dari dia, kini saya menjadi lebih berhati-hati dalam memulai sesuatu. Berikutnya teman yang sangat luar biasa, dia adalah seseorang yang berasal dari Kota Padang. Karena telalalu banyak kebaikannya dia, sehingga saya tidak dapat menyebutkan. Tanpa dia sadari, saya banyak belajar dari perilakunya terutama bagaimana hidup menjadi lebih dewasa. Mereka berdua adalah kawan sekelas saya ketika saya belajar di English Studio. Mereka berdua adalah orang yang terus mendukung dan memberikan semangat ketika saya gagal ujian IELTS.

“dari kegagalan, saya dapat memetik banyak berkah”
Asep Rudi Casmana

Muka bahagia setelah ujian IELTS di IALF Surabaya

Jumat, 25 Maret 2016

Katanya Indonesia satu, kok berantem?

Oleh Asep Rudi Casmana

Indonesia merupakan sebuah negara multikultural. Hal ini diperlihatkan dengan banyaknya pulau-pulau, bahasa daerah, suku, ras, agama serta hal-hal lainnya yang telah membuat bangsa ini sebagai sebuah negara yang kaya akan segala-galanya. Penduduknya yang sangat ramah juga telah membuat para pengunjung dari luar negeri merasa nyaman ketika tinggal dengan masyarakat lokal. Keberagaman dan multikultural tersebut akan menjadi sebuah kekayaan dan harta yang sangat berharga yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya, namun hal itu juga dapat menjadi sebuah konflik yang dapat membuat Indonesia menjadi negara yang terpecah-belah.

Semenjak dideklarasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa ini telah mengalami berbagai fenomena yang dapat mempengaruhi persatuan dan kesatuannya. Tragedi tersebut khususnya menyangkut masalah sara, mulai dari deportasi ribuan etnis China pada saat era orde baru, hingga konflik antar agama.

Jika melihat beberapa tahun ke belakang, masih sangat segar dalam ingatan bangsa Indonesia ketika tragedi Poso dan Sampit mewarnai negeri ini. Pada saat itu, perpecahan terjadi karena permasalahan agama khususnya antar pemuda di daerah itu terus megalir hingga berjatuhan korban. Banyak media yang mempublikasikan para korban yang sudah menjadi mayat. Tubuh yang telah berlumuran darah merah yang keluar dari uratnya, hingga korban yang hilang kepalanya entah kemana tengah menggemparkan bangsa ini.

Mayat-mayat yang tergeletak dengan kucuran darah tersebut telah banyak diklaim oleh media bahwa itu adalah orang yang beragama Islam. Namun disisi lain, ada banyak media juga yang memberikan label bahwa korban itu berasal dari agama Kristen. Padahal, tidak ada bukti berupa kartu identitas yang sangat kuat bahwa mereka berasal dari salah satu agama. Yang jelas, mereka adalah bangsa Indonesia, mereka adalah saudara-saudara kita semua. Orang yang dapat berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, orang yang memiliki ciri-ciri kulit dan rambut yang sama.

Konflik-konflik antar agama dan ras tersebut bukan berarti telah redam dan tidak akan muncul kembali. Jika ada orang yang mencoba untuk mengobarkan bara api konflik itu, maka akan terulang kembali. Saat ini, banyak media yang mulai memanfaatkan momen pemilihan kepala daerah Gubernur DKI Jakarta sebagai cara untuk mengobarkan bara api konflik antar agama dan antar suku. Orang-orang yang terlibat dalam permainan ini pun berasal dari mulai kalangan borjuis hingga kalangan priyai bahkan ada juga kalangan akademisi. Mereka berusaha untuk menyalakan konflik yang dapat mengulangi tragedi-tragedi yang menyedihkan yang tengah terjadi di Indonesia.

Sebagai seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan, saya berasumsi bahwa hal itu telah terjadi karena kurangnya pahamnya terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia khususnya sila pertama. Proses pengejawantahan Pancasil akan mempersuasi orang-orang untuk dapat meredam konflik bahkan menimbunnyaa hingga hal itu tidak terjadi kembali.
Yudi Latif dalam bukunya Mata Air Keteladanan mengatakan bahwa di Indonesia ini terdiri dari banyak agama yang masing masing dari kelompok itu memiliki keyakinan bahwa mereka semuanya merasa paling benar. Namun dari perbedaan-perbedaan itu ada sebuah titik temu yang bernama “kaidah emas” atau golden rule yang menyatukannya. Secara negatif makna dari kaidah tersebut adalah “janganlah engkau berbuat sesuatu kepada orang lain, yang engkau sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu”. Sedangkan dalam kalimat positifnya adalah “cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri”

Dari pernyataan Yudi Latif terebut sudah sangat jelas bahwa untuk menjaga keberagaman, persatuan dan kesatuan Indonesia, perlu adanya pengejawantahan terhadap Pancasila terutama sila pertama yaitu ketuhanan yang maha esa. Hal ini akan membuat orang hidup rukun antar umat beragama, sehingga konflik-konflik seperti yang sudah terjadi tidak akan terulang. Kejadian seperti ini juga diasumsikan bahwa apabila seseorang sudah menjungjung tinggi toleransi dan tenggang rasa, maka mereka akan memperlakukan orang lain yang berbeda kelompok seperti mencintai dirinya sendiri. Mereka juga tidak akan memperlakukan orang lain seperti apa yang tidak ia inginkan.

Jika mengutip pernyataan Sjafrudin Prawiranegara, Pemerintah Darurat Republik Indonesia yang berdiam di istana Bukit Tinggi mengatakan bahwa di Indonesia ini tidak ada barat dan tidak ada timur, tidak ada islam dan tidak ada Kristen, tidak ada hindu dan tidak ada budha kalau mereka berlomba-lomba berbuat baik kepada Tuhan Yang Maha Esa. Baik itu dari agama apapun, semuanya sama. Yaitu sama-sama untuk mencari kebaikan baik itu kepada sesama umat manusia ataupun kepada tuhannya.

Oleh sebab itu, marilah kita sama-sama menjadikan pancasila sebagai ideologi dalam kehidupan sebagai ciri khas bangsa Indonesia. Dengan adanya pemahaman mendalam mengenai Pancasila, orang-orang akan berusaha menghormati dan toleransi kepada orang lain.


Sabtu, 19 Maret 2016

Ayo terapkan Pendidikan Seks di Indonesia, emang boleh?

Oleh Asep Rudi Casmana, S.Pd.
Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan



Menjadi salah satu keluarga penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) merupakan sebuah tanggung jawab yang besar bagi diri saya pribadi. Pasalnya saya diberikan dana yang nilainya cukup besar dan jika ditanggung oleh biaya sendiri, saya tidak akan mampu untuk mengumpulkan dana sebanyak itu. Tentunya hal itu telah membuat diri saya pribadi untuk dapat bersyukur dan membuat sebuah pemikiran yang dapat direalisasikan setelah setelah seleasai masa studi masternya.

Sebagai seorang pendidik, saya memilih negara Australia khususnya di Monash University untuk melanjutkan studi master degere. Di kampus para pendidik ini, saya mengambil jurusan Master of Education in Educational Leadership and Policy. Hal ini saya lakukan bukan semata-mata saya sebagai seorang guru, namun saya ingin memberikan sebuah kontribusi yang nyata bagi Indonesia khususnya di bidang pendidikan, setelah menyelesaikan masa belajar.

Sebagai seseorang yang menerima beasiswa, tentunya ada sebuah tanggung jawab moral bagi saya supaya dapat memberikan sebuah timbal balik untuk bangsa Indonesia ke depan. Hal itu saya sampaikan kepada para pewawancara pada saat seleksi di Jakarta.

Jadi saya ingin membuat sedikit warna baru di bidang pendidikan, yaitu membuat konsep pembelajaran pendidikan Seks bagi para peserta didik mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah. Hal ini dilatar belakangi oleh beberapa kasus yang menggambarkan bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami degradaai moral, khususnya para remaja yang akan menjadi para penerus generasi masa depan bangsa Indonesia. Bisa kita lihat wajah bangsa Indonesia saat ini melalui penelitian yang dilakukan oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) pada tahun 2008 yang menyebutkan bahwa 51 % remaja yang tinggal di Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Kemudian hal ini didukung oleh hasil survey PKBI (perkumpulan keluarga berencana Indonesia) pada tahun 2006 yang menyebutkan bahwa usia pertama kali para remaja melakukan hubungan seksual adalah 13 hingga 18 tahun.


Jika mengarah kepada survey diatas, sungguh sangat mengenaskan keadaan degradasi moral bangsa Indonesia ini. Belum lagi akhir-akhir ini marak beberapa pemberitaan mengenai pencabulan terhadap anak-anak, penyebaran hubungan sesama jenis yang benar-benar memberikan efek negatif terhadap kesehatan tubuh. Oleh sebab itu, hal ini tidak dapat dibiarkan karena mereka adalah generasi-generasi para penerus bangsa Indonesia yang akan menjadi pengemudi bangsa Indonesia kearah mana akan dibawa.

Sebuah solusi jangka panjang yang saya tawarkan adalah melalui implementasi pendidikan seks di tingkat dasar hingga menengah. Subjek pelajaran pendidikan seks ini  belum pernah diterapkan di Indonesia dan bahkan sangat tabu untuk dibicarakan. Hal ini bukanlah menjadi sebuah masalah bagi saya, karena dengan perkembangan zaman dan globalisasi yang saat ini sedang melanda bangsa Indonesia, pendidikan seks merupakan sebuah kebutuhan yang secara ilmiah perlu diketahi oleh para peserta didik yang sedang duduk di institusi pendidikan formal.

Selanjutnya saya memilih di Australia karena negara ini sudah secara formal menerapkan pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Menurut Tom Batty, kepala sekolah di Scotch College Melbourne, mengatakan bahwa pendidikan seks di Australia sudah terintegrasi melalui pendidikan agama Kristen dan pendidikan jasmani dan kesehatan. Mereka memfokuskan kepada kedua pelajaran itu yang mengampu kegiatan belajar-mengajar mengenai pendidikan seks. Hal ini sudah sepenuhnya didukung oleh pemerintah setempat melalui peraturan yang tertuang dalam Victorian Essential Learning Standard (VELC) yang telah membuat subjek pendidikan seks menjadi sebuah pelajaran yang wajib.

Atas dasar hal itulah, saya memutuskan untuk melanjutkan untuk melanjutkan studi di Australia. Sambil saya belajar di Monash University, saya dapat mengunjungi beberapa sekolah untuk dapat mengamati secara langsung bagaimana proses belajar mengajar yang ada di sekolah tersebut. Saya juga dapat berinteraksi dengan para guru pelajaran yang mengampu pendidikan seks. Alasan lainnya adalah kampus Monash University berlokasi di Melbourne, dimana hal ini lebih dekat ke sekolah-sekolah menengah yang sudah sukses dalam implementasi pendidikan seks.


Harapannya setelah saya pulang dan kembali ke Indonesia, saya memiliki sebuah oleh-oleh yang dapat memberikan kontribusi khususnya di bidang pendidikan Indonesia. Kemudian, secara perlahan permasalahan degradasi moral yang terjadi pada generasi pelajar Indonesia saat ini dapat diatasi secara perlahan.
                                                                                                                                 

Sabtu, 12 Maret 2016

Ku Tarik Anak Panah-ku di Kampung Inggris

Oleh Asep Rudi Casmana
Episode 3
Jalan terjal menuju beasiswa LPDP

“Sep, ibarat sebuah panah, saat ini lo sedang menarik jauh-jauh ke belakang anak panah lo. Pada saat waktu yang tepat, hal itu akan melesat jauh ke depan dan menancap di sebuah tempat yang sesuai dengan cita-cita lo…..”
Jafar Shodiq, S.Pd. Guru PKn SMP Islam Al-Azhar Karawang

Sebuah kalimat yang diberikan oleh sahabat saya, ketika membawa murid-muridnya ke pare, dia memberikan nasehat seperti itu yang hingga saat ini selalu saya ingat. Disaat semangat saya turun dan hampir putus asa, pada akhirnya Allah selalu memberikan seseorang yang secara tidak sengaja terus meningkatkan semangat dan motivasi untuk berjuang. Berikut ini saya akan ingin bercerita susah senang selama kurang lebih 14 bulan di pare.
…………………………….
Kampung Inggris
Saya sangat ingat betul bahwa pada saat itu, waktu menunjukan pukul 01.30 WIB dimana yang biasanya orang-orang sudah tertidur dengan lelap dan menikmati mimpi-mimpi indahnya dalam kegelapan malam. Hal itu sangat berbeda dengan saya, otak ini harus terus bekerja untuk menghafal academic advance vocabularies atau bahkan menulis artikel dengan bahasa inggris akademik. Setiap hari di tempat saya belajar, saya harus menghafal kosa kata kurang lebih tiga puluh, yang apabila tidak sampai segitu, terkadang kami tidak diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Untungnya saya memiliki seorang kawan seperjalanan yang selau berjuang bersama untuk menghafal kosa kata tersebut atau bahkan mengingatkan apa saja tugas yang harus di kupulkan ke guru di kelas pada hari esok. Setelah hafal semua kosa kata itu, esok harinya kami harus masuk kelas tepat pada pukul 06.00 WIB tanpa telat satu menit pun. Pernah suatu hari, saya dan kawan saya itu telat bangun pagi, tanpa mandi, kami langsung bergeas lari-lari ke kelas. Entah roh ini sudah berkumpul atau belum, atau sudah sadar atau belum. Setelah keringat bercucuran dan membasahi hampir semua kaos saya serta nafas dan jantung yang terus berdetak kencang, waktu menunjukan pukul 06.10 menit ketika kami sampai di pintu kelas. Sesuai dengan peraturan, kami berdua tidak diperbolehkan masuk oleh turor.

Rasanya sangat sedih. Jika saya tertinggal satu pertemuan saja, maka saya akan tertinggal materi karena belajar IELTS khususnya writing itu sama seperti matematika. Ketika tertinggal sekali, kami akan kehilangan dan ketinggalan arah. Saya juga teringat pengorbanan tadi malam yang dengan susah payah menghafalkan vocabularies sebanyak 30 kata yang level-nya khusus untuk kosakata akademik. Namun, peraturan ya tetap peraturan, akhirnya kami mendapat hukuman untuk tidak dapat masuk ke kelas selama satu hari. Kehidupan seperti itulah yang tengah mewarnai hari-hari saya selama di pare, kampung inggris.
………………………………………………

Jadi selama satu tahun di pare, saya mengambil beberapa tempat kursus yang dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas saya untuk dapat melanjutkan studi ke Australia. Namun disini saya akan menceritakan satu tempat kursus yang paling lama saya belajar dan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kesuksesan dalam mempelajari IELTS.

Saya memutuskan untuk belajar di English Studio, karena tempat ini adalah yang benar-benar memfokuskan untuk mempelajari IELTS. Disini saya dipertemukan tengan orang-orang yang sangat hebat, karena mayoritas peserta didik yang belajar disini adalah yang memiliki tujuan belajar IELTS dan lanjut studi ke Luar Negeri. Sehingga lingkungannya sangat mendukung.
Kawan seperjalanan yang bertahan
Jumlah pelajar disini tidak banyak, mereka membatasi tidak lebih dari sepuluh orang di setiap kelasnya. Namun biasanya baru seminggu atau dua minggu belajar, mereka banyak yang menghilang, atau kami katakan mereka terjangkit penyakit MUNTABER (mundur tanpa berita) karena tidak cocok dengan budaya akademik disini. Di kelas saya pun yang bertahan hingga bulan ketiga hanya tinggal tiga orang saja. Saya sendiri, dan dua orang sahabat saya dari Sumatera yang sangat hebat.

Memang yang tadi diatas hanya sepenggal kisah dari perjalanan saya belajar IELTS di English Studio ini, kami dituntut untuk belajar dan datang tepat waktu mulai dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 21.00 malam, terkadang kalau tugas belum selesai kami belajar hingga pukul 10.00 atau bahkan menginap di kelas. Kami juga tidak mengenal tanggal merah ataupun weekend sabtu minggu, setiap hari adalah kelas di English Studio (ES). Namun perbedaannya kalau weekend biasanya tidak ada kelas malam. Itulah sebabnya banyak orang yang hilang tanpa kabar meskipun baru dua minggu.

Aktivitas pertama kami dimulai pada pukul 06.00 – 11.00, pada kelas pagi ini biasnya kami belajar listening dan reading yang dibagi menjadi dua sesi. Namun sebelum itu, totor kami selalu menagih hafalan kosa kata yang banyaknya sekitar 30 setiap harinya. Jika kami tidak hafal, maka biasanya diberikan sanksi atau tidak boleh masuk kelas. Dalam kelas listening ini, tutor kami memberikan materi dan membahas soal-soal yang ada di Cambridge IELTS, atau biasanya diberikan video TED untuk dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas bahasa inggris. Sedangkan pada sesi reading, kami juga selalu dilatih untuk membaca dan mengerjakan soal-soalnya. Mengenai detail bagaimana proses peningkatkan skill listening dan reading, nanti saya akan bahas dalam artikel khusus di episode berikutnya.

Setelah kami istirahat selama dua jam, biasanya kami disuruh tidur oleh tutor, dilanjutkan lagi kelas pada pukul 13.00 – 17.00. Kelas sesi kedua ini adalah untuk materi Speaking dan Writing. Saya sangat suka kelas ini, khususnya writing karena kami diwajibkan menulis setidaknya dua artikel setiap hari dalam bahasa inggris melalui tugas-tugas. Tentunya yang berhubungan dengan IELTS. Satu hal yang saya pelajari disini, saya yang tadinya tidak dapat membaca grafik dan tabel (IELTS Writing task 1), karena belajar disini saya jadi mampu dan bisa membacanya. Kemudian kelas speaking, saya juga sangat nyaman karena saya sangat enjoy ketika bercerita dan menjawab pertanyaan dalam bahasa inggris. Kelas ini hanya jeda untuk sholat Ashar, selebihnya kami belajar di kelas.

Setelah otak diperas selama seharian, kami bertiga belum dapat beristirahat karena masih ada kelas malam yang dimulai pada pukul 19.00 – 21.00. Terkadang suka molor hingga pukul 10.00 atau tengah malam. Kelas malam ini biasa dikatakan sebagai kelas vitamin. Karena disini kami diwajibkan untuk merangkum video TED yang diperoleh dari youtube. Setelah mendengarkan video yang berdurasi kurang lebih 10 – 20 menit, kami harus menulis dengan minimal 80 hingga 150 kata dalam bahasa inggris dengan grammar yang benar. Setelah itu tulisannya diunggah ke grup facebook English Studio. Selain listening, kami juga harus merangkum satu artikel yang berasal dari tujuh website yang salah satuny adalah national geographic dan history today. Dalam satu artikel itu, kami merangkum dan mengupload ke facebook. Begitulah aktivitas saya selama belajar di English studio.

Belum selesai sampai disini, sepulangnya sampai kamar, saya tidak dapat langsung tidur, karena saya harus menghafalkan 30 kosa kata akademik yang merupakan tiket masuk ke kelas pada hari esoknya. Atau terkadang ada tugas tambahan untuk menulis satu atau dua artikel, sehingga waktu tidur saya benar-benar sangat berkurang. Kalau weekend terkadang saya tidak tidur semalaman karena saya harus translate artikel reading, karena itu adalah skill yang paling membutuhkan peningkatannya.
Ini tempat saya belajar
Karena sibuknya aktifitas di English Studio, sehingga saya benar-benar sangat lupa sama yang lainnya. Tidak ada dalam benak pikiran saya untuk pergi berlibur, padahal teman-teman yang belajar di tempat lain banyak yang mengajak liburan ke Surabaya atau ke Malang yang memiliki spot-spot wisata yang sangat bagus. Pokonya saya harus bertahan hingga saya sukses dapatkan nilai IELTS 6.5. Serta saya menghilang dari peradaban komunikasi teman-teman yang lainnya, itu dikarenakan padatnya aktivitas di English Studio. 
Pada akhirnya, setelah kurang lebih selama delapan bulan aktivitas dan rutinitas sehari-hari, saya baru dapat kembali aktif di social media, dan dapat berkomunikasi dengan yang lainnya. Meskipun saya sibuk dengan aktifitas bahasa, saya berusaha untuk tidak mengeluh dan terus berjuang.

Tutor saya selain membimbing bahasa inggris, dia juga memberikan motivasi untuk terus berjuang. Saya masih ingat betul pernyataan dia bahwa lebih baik kita berjungkir balik di dalam negeri untuk belajar bahasa dibandingkan dengan harus dicaci maki oleh dosen di luar negeri, karena kita benar-benar belum tau seberapa keras kultur akademik di luar negeri. Setidaknya dengan proses pembelajaran yang sangat ketat di pare ini dapat menjadikan bekal kepada kita supaya tidak kaget dengan diharuskannya menulis setiap hari di luar negeri.

Saya sangat bersyukur bisa bertemu kawan-kawan seperjalanan yang dapat meberikan motivasi dan inspirasi saya untuk terus berjuang hingga saya mendapatkan beasiswa LPDP. Pada akhirnya, saya tidak ketakutan lagi untuk membaca artikel bahasa inggris. Dengan vocab yang saya hafalkan sebanyak 30 setiap hari selama tiga bulan, benar benar telah membantu saya dan mempermudah untuk membaca dan berkomunikasi.

Perjalanan saya selama satu tahun di pare benar-benar sangat melelahkan pada waktu itu. Terkadang berlali cepat, terkadang lambat, terkadang berhenti, terkadang sambil ngesot, itu semua tergantung beban yang ditanggung. Namun pada akhirnya saya dapat menyelesaikannya. Seperti kata tutor saya di English Studio yang mengatakan bahwa “segala sesuatu itu harus diselesaikan”. Jadi bagi teman-teman yang sudah memiliki niat untuk lanjut studi ke luar negeri dan mendapatkan beasiswa LPDP, kalau gagal ayo terus dilanjutkan jangan sampai berhenti.

Sebenarnya masih banyak kisah-kisah lain yang ingin saya ceritakan, namun seperti yang saya katakana di awal bahwa tinta lima pensil pun tidak akan cukup untuk menuliskan indahnya kampung inggris. Namun kurang lebih inilah ringkasannya. Kedepan, saya akan menceritakan bagaimana caranya untuk membangkitkan motivasi dan semangat setelah 2 kali gagal test IELTS dan 3 kali gagal test TOEFL ITP.


Terimakasih.